Batik Gambo Mendunia, Bukti Sukses Kolaborasi SKK-Migas – Pemkab Muba dan Pelaku Usaha

SEKAYU | Globalsumatera.co – Hanya dalam tempo satu dekade (kurang lebih 10 tahun), Batik Gambo, kain khas dari Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, mampu medobrak dominasi pasar batik nasional. Seperti batik Solo, Pekalongan, Yogyakarta dan sejumlah daerah penghasil kain batik terkenal lainnya. Ada peran besar Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melalui Mitra KKKS Sumbagsel, yang tak bisa dinafikan dibalik sukses tersebut.

Nama “Gambo” berasal dari bahasa Desa Toman (dibaca Tuman), Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin, yang berarti Gambir, yaitu tananam yang daunnya bergetah dan bisa diolah menjadi obat dan bahan pencampur untuk ‘Menginang’ atau ‘Menyirih’ (sejenis kunyahan tradisional untuk kesehatan mulut yang lazim disebut Sekapur Sirih).
Gambir dalam bahasa latin Uncaria gambir Roxb, adalah perdu tropis dari suku kopi-kopian (Rubiaceae). Ia mudah tumbuh di daerah lembab seperti lereng perbukitan, bahkan di perkebunan sawit secara tumpang sari. Gambir diambil daunnya dan dipanen ketika tanaman sudah berusia 7 bulan ke atas. Masa panen pun bisa sampai 15 tahun.
Daun gambir kemudian direbus lalu dihaluskan dan diambil saripatinya kemudian dijemur hingga kering dengan cara diletakkan di kayu cetakan. Lalu kemudian dipotong-potong berbentuk balok seukuran jari telunjuk.
Sejak zaman dahulu, getah gambir dipercaya sangat ampuh meredakan diare, menyembuhkan luka, mengencangkan kulit, hingga pengobatan untuk keperkasaan pria dewasa. Saking banyaknya manfaat getah Gambir, menurut catatan Dinas Pertanian Muba, di era tahun 2000-an, sempat menjadi salah satu komoditi ekspor untuk kebutuhan pabrik industri farmasi.

Lalu apa pula korelasi Gambir dengan Batik Gambo? Ternyata ada kisah menarik dibalik ‘lahirnya’ eco fashion ini. Kisah ini diungkap oleh Supriyadi, Kepala Desa Toman periode 2016 – 2022, dalam wawancara khusus Globalsumtera.co di kediamannya, Sabtu (6/6/2026) malam selepas Isya.
Sekitar bulan Februari 2016, Kades Supriyadi melihat langsung proses pembuatan getah gambir di salah satu perkebunan masyarakat di Desa Toman. Saat itu ia melihat banyak sekali limbah cair bekas proses pembuatan getah gambir dibuang percuma. Dan tanpa sengaja pula, pandangannya tertuju pada baju salah seorang petani gambir yang penuh noda getah.
Ia lantas bertanya kepada pemilik kebun, bagaimana cara menghilangkan getah gambir jika menempel di pakaian. Si pemilik kebun mengatakan, getah gambir tak bisa dihilangkan jika menempel di kain atau pakaian. Bahkan sembaliknya, jika kain itu berwarna, malah warnanya semakin terang.
Supriyadi lantas teringat dengan istrinya yang tengah merintis usaha pembuatan batik tulis di rumahnya, bersama Ibu-ibu PKK Desa Toman. Singkat cerita muncul ide untuk memanfaatkan limbah getah gambir tersebut sebagai bahan pewarna utamanya. Tapi bagaimana caranya? Supriyadi lantas berkoordiasi dengan Erini Mutia Yufada, Ketua PKK Kabupaten Muba, yang juga istri dari Bupati Musi Banyuasin, Dodi Reza Alex Noerdin, yang menjabat saat itu.

Gayung pun bersambut, ide memanfaatkan getah gambir untuk dijadikan bahan utama pewarna kain batik tersebut, ditindaklanjuti Thia Yufada (panggilan Erini Mutia Yufada), dengan mengutus lima pemuda lokal untuk belajar teknik pewarnaan alami pada kain batik di Yogyakarta. Hanya dalam tempo satu bulan, mereka berhasil mengubah limbah getah gambir menjadi produk bernilai tinggi.
Keberhasilan menjadikan limbah proses pembuatan getah gambir menjadi bahan pewarna, akhirnya menginisiasi banyak pemilik kebun sawit di Muba, untuk menanam pohon gambir secara tumpang sari. Sebab, seiring tumbuh dan berkembangnya usaha kerajinan batik Gambo, pastinya kebutuhan akan bahan pewarna tersebut akan semakin tinggi.
Peluang usaha tanaman gambir ini juga dibaca oleh banyak pemilik lahan di daerah lain. Hanya sayangnya, menurut Supriyadi, tanaman gambir tidak sembarangan bisa tumbuh sempurna seperti di Dea Toman.
”Entahlah, ini mitos tapi fakta. Gambir jika ditanam diluar wilayah Babat Toman, Muba, ia memang tumbuh, tapi tidak menghasilkan getah. Sekali pun bibitnya didatangkan dari sini (Babat Toman) jika ditanam di wilayah lain, ia hidup tapi tidak bergetah,” ujarnya.
Menurutnya fenomena ini pernah diteliti oleh dua profesor satu dari Unsri dan satu lagi dari Jepang. Mereka penasaran, mengapa fenomena ini bisa terjadi. Tapi mereka berdua tidak berhasil menemukan jawaban. mengungkap apa yang menjadi penyebab tidak bergetahnya pohon gambir jika ditanam di luar wilayah Babat Toman, meskipun secara fisik ia tumbuh dan berdaun lebat.
Metode Celup Rintang

Sejak ‘dilahirkan’ di Desa Toman, usaha Batik Gambo mulai diminati masyarakat luas. Tidak hanya di Kecamatan Babat Toman dan Kota Sekayu, tapi juga di sejumlah daerah lain, seperti di Muara Enim, Prabumulih, Musi Rawas bahkan di Kota Palembang sendiri. Kain yang memadukan teknik tradisional dan desain modern ini pun belakangan menjadi pakaian dinas wajib bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Muba.
Selain itu, Batik Jumputan Gambo kerap tampil dalam pergelaran budaya, fashion show, bahkan festival pariwisata, menjadi simbol inovasi budaya yang semakin hidup.
Berbeda dengan batik tulis atau cap, Gambo Muba dibuat menggunakan metode celup rintang dengan teknik ikat jumputan. Langkah awal kain dilipat sesuai dengan pola yang diinginkan (misalnya bentuk segitiga atau segi empat). Ada juga dengan cara membungkus kelereng atau koin di dalam kain untuk membentuk pola lingkaran. Bagian-bagian ini diikat menggunakan karet gelang atau tali rafia untuk menghasilkan efek rintangan warna (motif).
Setelah selesai, kain dicelupkan ke dalam air panas rebusan getah gambir yang diberi batu lunjuk (sejenis batu perekat warna) bungkusan ukuran 1 kg, hingga warnanya merata. Ada juga yang menggunakan teknik colet (oles kuas), jika ingin bermain dengan lebih dari satu warna.
Setelah kain dicelup gambir, kain ditiriskan lalu celupkan kembali ke dalam larutan pengunci warna (fiksator). Seperti Air kapur yang menghasilkan warna cokelat muda/krem. Kemudian Tawas yang Menghasilkan warna oranye, serta Tunuung yang menghasilkan warna cokelat tua hingga kehitaman.
Terakhir kain celupan tersebut dijemur di tempat yang teduh hingga setengah kering. Lalu seluruh ikatan karet atau tali pada kain dibuka, kemudian kain dibentangkan. Setelah itu kain yang sudah bermotif batik dibilas dengan air mengalir sampai sisa pewarna dan pengunci benar-benar bersih.
Selanjutnya kembali dijemur hingga benar-benar kering dan siap untuk disetrika serta dijahit menjadi baju atau gaun, bahkan bisa dibuat tas jinjing dengan motif yang sangat elegan.

Dorongan Kuat SKK Migas
Keberhasilan kebangkitan Batik Gambo, diakui Supriyadi, tidak lepas dari dorongan kuat dari SKK Migas bersama mitra KKKS yang ada. SKK Migas berperan sebagai fasilitator dan motor penggerak pemberdayaan UMKM melalui program pengembangan masyarakat (PPM/CSR).
Selain memberikan bantuan peralatan kerja, SKK Migas dan KKKS seperti Pertamina Hulu Rokan atau Medco E&P, kerap memfasilitasi UMKM lokal, termasuk Batik Gambo Muba, untuk mengikuti pameran regional dan nasional (seperti Sriwijaya Expo) guna memperluas jangkauan secara berkala. Bahkan hampir semua KKKS yang berada di wilayah Muba, juga menjadikan Batik Gambo sebagai pakaian resmi di hari kerja mereka.
Selain itu selalu membuka ruang bagi UMKM untuk mengikuti berbagai pelatihan dan pembinaan keterampilan, pelatihan manajemen usaha, hingga permodalan bagi perajin lokal. Program pelatihan berbasis partisipatif, seperti metode Participatory Learning and Action (PLA). Melalui PLA, pengrajin dilibatkan aktif dalam setiap tahap pelatihan.
Sinergi berkelanjutan ini tercermin dalam komitmen SKK Migas dan Pemkab Muba untuk memaksimalkan dampak berganda dari sektor energi terhadap peningkatan ekonomi kreatif dan kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan kata lain, kebangkitan Batik Jumputan Gambo membawa dampak ganda. Secara ekonomi, nilai jual produk menjadi naik, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat mata pencaharian keluarga pengrajin.
Batik Jumputan Gambo membuktikan bahwa pakaian tradisional tak sekadar artefak masa lalu, melainkan dapat beradaptasi dan berkembang mengikuti zaman. Melalui teknik jumput berbahan alami dan terobosan pemasaran kreatif, kain khas Musi Banyuasin ini sudah menjadi trendy bahkan menjadikan trade mark kebanggaan Indonesia yang mendunia. (*)
Penulis : Ruswana
Catatan : Tulisan ini merupakan bukti kepesertaan lomba Anugrah Jurnalistik Migas yang diselenggarakan SKK-Migas Sumbagsel Tahun 2026

