April 8, 2026

Sekda Edward Candra Apresiasi Tradisi ‘Midang Morge Siwe’ di Kayuagung

** Pelestaria Nilai Budaya dan Pariwisata

KAYU AGUNG | Globalsumatera.co – Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Dr. Drs. H Edward Candra,M.H , menghadiri langsung tradisi budaya Midang Morge Siwe yang digelar di Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Senin (23/03/2026).

Kegiatan yang berlangsung di pelataran Pantai Love, Sungai Sungai Komering tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah dan menjadi momen berkumpulnya masyarakat, termasuk para perantau yang pulang kampung.

Dalam sambutannya, Edward Candra menyampaikan salam dari Gubernur Herman Deru dan Wakil Gubernur Cik Ujang kepada masyarakat OKI.

“Kami sampaikan salam dari Gubernur dan Wakil Gubernur. Selamat Hari Raya Idul Fitri, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin,” ujarnya.

Edward menegaskan bahwa keberlanjutan tradisi Midang Morge Siwe sebagai warisan budaya tak benda Indonesia merupakan hasil kesungguhan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan budaya leluhur.

“Kita bersyukur kegiatan budaya kebanggaan Midang Morge Siwe dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia. Ini berkat kesungguhan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten OKI,” katanya.

Menurutnya, Midang Morge Siwe tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan kepada leluhur yang tetap dijaga hingga saat ini.

“Pemprov Sumsel memberikan apresiasi kepada Pemkab OKI dan masyarakat yang terus mempertahankan tradisi ini. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur,” tambahnya.

Lebih lanjut, Edward mendorong Pemerintah Kabupaten OKI untuk terus mengembangkan pelaksanaan Midang Morge Siwe dengan tampilan yang lebih menarik, kreatif, dan inovatif guna menarik wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara.

“Kami mendorong agar kegiatan ini dikemas lebih menarik dan inovatif sehingga mampu menarik wisatawan luar kota maupun mancanegara. Ke depan, ini bisa menjadi agenda nasional bahkan internasional,” tegasnya.

Ia juga menilai tradisi tersebut memiliki potensi besar dalam mendorong sektor pariwisata, khususnya ekonomi kreatif di daerah. “Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong kemajuan di bidang pariwisata, terutama ekonomi kreatif,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Edward mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga ketertiban dan keselamatan selama pelaksanaan kegiatan. “Selamat menggelar Midang Morge Siwe. Pesan kami, tetap jaga ketertiban dan keselamatan dalam merayakan,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, mengatakan Midang Morge Siwe merupakan warisan budaya tak benda yang menjadi kebanggaan masyarakat Kayuagung dan telah diakui pemerintah.

“Kita sambut adat ini dengan kebanggaan karena sudah diakui pemerintah sebagai warisan budaya tak benda masyarakat Kayuagung. Dalam acara ini tidak hanya pejabat yang hadir, tetapi juga banyak warga OKI yang pulang kampung untuk menyaksikan tradisi ini sehingga menimbulkan nostalgia,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menikmati kemeriahan tradisi tersebut dengan tertib. “Mudah-mudahan semarak Lebaran 2026 ini menjadi lebih berkesan dan tetap tertib. Kita jaga bersama. Selamat Lebaran dan selamat menyaksikan Midang Morge Siwe,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, tradisi ini menampilkan pemuda-pemudi yang mengenakan busana adat perkawinan (Mabang Handak) dan berjalan mengelilingi kota, khususnya di sepanjang Sungai Komering, dengan iringan musik tradisional tanjidor. Tradisi ini biasanya digelar pada hari ketiga dan keempat Idul Fitri atau dikenal sebagai Midang Bebuke.

Sudah Ada Sejak Abad 17

Midang Morge Siwe adalah tradisi arak-arakan budaya khas masyarakat Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Tradisi ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia dan menjadi agenda pariwisata tahunan yang sangat dinanti, terutama oleh para perantau yang pulang kampung.

Midang Morge Siwe artinya Arak-arakan 9 (Sembilan) marga atau silsilah keturunan, yaitu Kayuagung Asli, Perigi, Kutaraya, Kedaton, Jua-Jua, Sidakersa, Mangunjaya, Paku, dan Sukadana.

‘Pesata adat’ ini sudah ada sejak abad ke-17, dahulunya merupakan bagian dari puncak adat pernikahan tertingi di Kayuagung. Tradisi ini digelar setiap hari ketiga dan keempat Idulfitri (Midang Bebuke). Pelaksanaannya menampilkan pemuda-pemudi mengenakan busana adat pengantin (Mabang Handak) yang diarak mengelilingi kota dan Sungai Komering, diiringi musik tanjidor.

Hakikat dari persata adat ini adalah Silaturahmi dan ajang berkumpul warga, dengan sanak saudara baik yang tinggal di desa maupun yang pulang kampung dari perantauan saat lebaran. (adv/hms)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *