Kepsek SMAN 16 Palembang: Sumbangan Siswa Tetap Dibutuhkan, Tidak Semua Tercover BOS dan PSG

PALEMBANG | Globalsumatera.co – Kepala SMAN 16 Palembang, Dra Hj Ema Nurnisya Putri MM mengungkapkan pihaknya tetap mengharapkan partisipasi wali murid, untuk mendukung kegiatan ekstrakuler serta kebutuhan lainnya, yang tidak tercover oleh Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah pusat dan Program Sekolah Gratis (PSG) dari pemerintah daerah.
”Begini, dana BOS dan PSG itu sudah ada ketentuan penggunaannya. Tidak boleh ada penggunaanya yang tidak sesuai dengan petunjuk yang sudah digariskan. Demikian pula dana PSG dari pemerintah provinsi, sudah ada aturannya. Karena itu sekolah tetap membutuhkan support dan dukungan program sekolah yang tidak disupport dana BOS maupun PSG tersebut,” Dra Hj Ema Nurnisya Putri MM, Jumat (25/07/2025).
Ema Nursisa memberikan gambaran beberapa prgoram yang tidak didanai oleh dana BOS dan PSG antara lain, untuk bayar gaji guru honor, office boy, kegiatan siswa bila ada perlombaan, perbaikan sarana dan prasarana sekolah dan sebagainya.
Lebih jauh Ema menegaskan, sumbangan sekolah tersebut bersifat sukarela, tidak dipaksa dan tidak ditentukan besarannya. ”Berapapun yang diberikan orangtua murid kami terima, dan sebelumnya ikhwal ini sudah dikordinasikan melalui rapat komite sekolah dan disepakati bersama melalui rapat,” tambahnya.
Pernyataan ini sekaligus memluruskan kabar yang beredar diluar, yang menyebutkan SMAN 16 Palembang mematok sumbangan dengan nilai yang telah ditentukan. ”Itu sama sekali tidak benar,” tegas Ema.
Ema juga mengatakan, setiap sumbangan dari orangtua murid selalu dipergunakan untuk keperluan sekolah, ada pertanggungjawabannnya dengan Komite Sekolah. Lagi pula sampai saat ini, antara pihak sekolah dengan wali murid, tidak pernah terjadi konflik apapun. Wali murid yang sama sekali tidak mampu, juga tidak pernah dipaksa untuk menyumbang. Dan selama ini antara sekolah dan orangtua murid, tidak pernah ada masalah dan nyaman-nyaman saja.
Andai saja, gara-gara sumbangan sukarela ini, hubungan sekolah dengan semua wali murid jadi tidak nyaman, tentu sudah kami hentikan. Tapi faktanya, justru setiap ada kegiatan ekstrakurikuler, mayoritas wali murid berpartisipasi menyumbang.
”Prinsipnya, kami selalu berusaha agar proses belajar mengajar antara guru dan murid bisa berlangsung lancar, tanpa terkendala apapun. Guru bertugas dengan baik, murid juga bisa belajar dengan tenang. Untuk menciptakan suasana ini terkadang dibutuhkan dana. Untuk itu kami berharap sumbangsih dan support dari orangtua murid maupun komponen lain di luar sekolah,” ujar Ema.
Diakui Ema, pada waktu pertama kali menjadi kepala sekolah SMA 16, banyak kekurangan sekolah yang perlu dibenahi. Seiring perjalanan waktu, berupaya terus berbenah dan hasilnya SMA 16 lebih baik dari sebelumnya. Ini tidak terlepas dari bantuan orangtua murid. (rus)
